Info Sekolah
Rabu, 02 Sep 2026
  • Alhamdulillah telah hadir website resmi Sekolah Dasar Islam Terpadu Uwais Al-Qorni Garut.
  • Alhamdulillah telah hadir website resmi Sekolah Dasar Islam Terpadu Uwais Al-Qorni Garut.
2 September 2026

Matematika Itu Menyenangkan atau Menyebalkan?

Rab, 2 September 2026 Dibaca 3x Berita Viral / Pendidikan

Matematika Itu Menyenangkan atau Menyebalkan?

Penulis: Rendi Budiarto

Setiap kali siswa ditanya, “Pelajaran apa yang paling kalian sukai di sekolah?”, jawaban yang sering muncul biasanya adalah olahraga.

“Nah, lho, kok bisa begitu?”

Mungkin karena olahraga membuat mereka bisa bergerak, bermain, tertawa, dan belajar bersama teman-teman. Lalu bagaimana dengan matematika?

Bagi sebagian anak, matematika adalah pelajaran yang menyenangkan. Mereka merasa puas ketika berhasil menemukan jawaban dari sebuah soal. Namun, bagi sebagian anak lainnya, matematika justru menjadi pelajaran yang menyebalkan. Baru melihat angka, rumus, atau soal yang panjang saja sudah membuat mereka merasa tidak mampu.

Lantas, apakah matematika memang sesulit dan semenakutkan itu?

Ketika Matematika Menjadi Pelajaran yang Menakutkan

Matematika sebenarnya bukan hanya tentang penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Matematika juga mengajarkan kita untuk berpikir logis, melihat pola, memahami hubungan, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.

Kemampuan menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari inilah yang berkaitan dengan literasi numerasi. Jadi, seseorang yang memiliki kemampuan numerasi bukan hanya mampu menghitung, tetapi juga mampu memahami dan menggunakan informasi yang berkaitan dengan angka dan matematika dalam kehidupan nyata.

Sayangnya, kemampuan matematika siswa Indonesia masih menghadapi tantangan. Salah satu gambaran yang dapat kita lihat adalah hasil PISA 2022. Indonesia memperoleh skor matematika 366, sedangkan rata-rata negara-negara OECD mencapai 472. Hanya sekitar 18% siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika, sementara rata-rata OECD mencapai 69% (OECD, 2023).

Tentu data tersebut membuat kita berpikir.

Tetapi menurut saya, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya:

“Mengapa kemampuan matematika kita masih rendah?”

Melainkan:

“Apa yang bisa kita lakukan agar anak-anak kita lebih menyukai matematika?”

Siapa yang Salah?

Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, kita mungkin pernah menemukan anak yang sudah berada di jenjang SMP atau SMA tetapi masih mengalami kesulitan dalam menguasai perkalian dasar.

Miris? Tentu.

Lalu, siapa yang salah?

Apakah gurunya? Sekolahnya? Orang tuanya? Atau anaknya?

Menurut saya, pertanyaan tentang siapa yang salah tidak akan menyelesaikan masalah.

Jika kita terus sibuk mencari siapa yang harus disalahkan, masalahnya justru akan semakin panjang. Yang kita perlukan adalah kerja sama.

Guru memiliki peran dalam menciptakan pembelajaran yang menarik dan membantu anak memahami konsep. Orang tua memiliki peran dalam memberikan dukungan serta membangun kebiasaan belajar di rumah. Sementara itu, anak perlu diberikan kesempatan untuk belajar, mencoba, melakukan kesalahan, dan mencoba kembali.

Pendidikan bukan pekerjaan satu orang.

Sekolah Mahal, Apakah Anak Otomatis Pintar Matematika?

Setiap orang tua tentu menginginkan pendidikan terbaik untuk anaknya. Tidak sedikit orang tua yang kemudian memilih sekolah berdasarkan fasilitas, reputasi, atau anggapan bahwa sekolah yang mahal dan favorit pasti mampu membuat anak menjadi pintar.

Menurut saya, anggapan tersebut perlu kita lihat kembali.

Sekolah yang bagus memang penting. Fasilitas yang baik juga dapat mendukung proses pembelajaran. Guru yang kompeten tentu sangat dibutuhkan.

Namun, sekolah bukanlah satu-satunya tempat anak belajar.

Tidak ada sekolah yang dapat menjamin seorang anak otomatis menjadi pintar matematika hanya karena sekolah tersebut mahal atau terkenal.

Belajar adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu, kebiasaan, dukungan, dan keterlibatan berbagai pihak.

Anak yang belajar di sekolah selama beberapa jam tentu membutuhkan kesempatan untuk mengulang dan menerapkan kembali apa yang telah dipelajarinya.

Di sinilah peran orang tua di rumah menjadi sangat penting.

Orang tua tidak harus menjadi guru matematika bagi anak. Tidak harus pula menguasai semua rumus matematika.

Terkadang, hal sederhana seperti bertanya,

“Hari ini belajar matematika apa?”

atau menemani anak mengerjakan beberapa soal sudah menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti.

Yang terpenting adalah membuat anak merasa bahwa belajar merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang hanya dilakukan ketika akan menghadapi ulangan atau ujian.

Matematika Bukan Sekadar Hafalan

Matematika bukanlah pelajaran yang cukup dipahami hanya dengan menghafalkan rumus.

Memang ada beberapa kemampuan dasar yang perlu dikuasai dan diingat, seperti fakta perkalian. Namun, matematika membutuhkan pemahaman dan latihan.

Anak perlu memahami mengapa sebuah rumus digunakan, kapan rumus tersebut digunakan, dan bagaimana cara menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.

Latihan juga tetap diperlukan.

Bukan berarti anak harus mengerjakan puluhan atau bahkan ratusan soal setiap hari. Yang lebih penting adalah latihan yang rutin, bertahap, dan sesuai dengan kemampuan anak.

Ketika seorang anak berhasil mengerjakan soal yang sebelumnya dianggap sulit, biasanya muncul sebuah perasaan sederhana:

“Oh, ternyata saya bisa.”

Menurut saya, kalimat sederhana itulah yang sangat penting dalam belajar matematika.

Karena ketika anak merasa mampu, kepercayaan dirinya mulai tumbuh.

Jangan Biarkan Konsep Dasar Terlewat

Matematika merupakan ilmu yang konsep-konsepnya saling berkaitan. Materi yang dipelajari hari ini sering kali menjadi dasar untuk memahami materi berikutnya.

Ibarat membangun sebuah rumah, konsep dasar adalah fondasinya.

Jika fondasinya kuat, kita akan lebih mudah membangun bagian-bagian berikutnya. Sebaliknya, jika ada bagian dasar yang belum kokoh, anak mungkin akan mengalami kesulitan ketika memasuki materi yang lebih kompleks.

Sebagai contoh, anak yang belum menguasai perkalian dapat mengalami kesulitan ketika mempelajari pembagian. Kesulitan tersebut kemudian dapat berlanjut ketika mereka mempelajari pecahan, perbandingan, luas, volume, dan berbagai materi lainnya.

Tentu tidak semua kesulitan matematika disebabkan oleh satu materi yang belum dikuasai. Namun, penguasaan konsep dasar akan sangat membantu anak dalam memahami konsep yang lebih tinggi.

Jika kesulitan tersebut dibiarkan terlalu lama, bisa muncul sebuah efek domino:

Tidak paham → merasa matematika sulit → kehilangan kepercayaan diri → malas mencoba → semakin jarang berlatih → semakin tertinggal.

Pada akhirnya, anak akan berkata:

“Matematika itu menyebalkan.”

Padahal, mungkin masalahnya bukan pada matematikanya.

Bisa jadi anak tersebut hanya belum menemukan pengalaman belajar yang membuatnya merasa bahwa ia mampu.

Bagaimana Membuat Matematika Menjadi Menyenangkan?

Lalu, bagaimana caranya agar anak menyukai matematika?

Menurut saya, jawabannya sederhana:

Buat matematika menjadi menyenangkan, bukan menegangkan.

Matematika bisa diperkenalkan melalui berbagai kegiatan yang dekat dengan kehidupan anak.

Ketika belajar pecahan, anak dapat diajak memahami pembagian makanan.

Ketika belajar pengukuran, anak dapat diajak mengukur benda-benda yang ada di sekitar kelas.

Ketika belajar perbandingan, anak dapat diajak membandingkan jumlah benda atau membuat campuran dengan takaran tertentu.

Ketika belajar bangun ruang, anak dapat diajak mengamati benda-benda yang ada di lingkungan sekitar.

Dengan cara seperti itu, anak akan menyadari bahwa matematika ternyata tidak hanya ada di dalam buku.

Matematika ada di sekitar kita.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan kesalahan.

Anak yang salah mengerjakan soal bukan berarti anak yang bodoh.

Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Dari kesalahan, anak dapat mengetahui apa yang belum dipahaminya dan mencoba memperbaikinya.

Karena tujuan belajar matematika bukan hanya mendapatkan jawaban yang benar.

Lebih dari itu, anak belajar bagaimana berpikir untuk menemukan jawaban tersebut.

Matematika Itu Menyenangkan atau Menyebalkan?

Pada akhirnya, apakah matematika itu menyenangkan atau menyebalkan?

Mungkin jawabannya berbeda bagi setiap anak.

Namun, sebagai guru dan orang tua, kita memiliki kesempatan untuk memberikan pengalaman yang berbeda kepada mereka.

Jika matematika selalu diperkenalkan dengan tekanan, ketakutan, dan kemarahan ketika anak melakukan kesalahan, jangan heran jika anak akhirnya menjauh dari matematika.

Sebaliknya, jika matematika diperkenalkan dengan kesabaran, permainan, latihan yang bertahap, permasalahan yang dekat dengan kehidupan mereka, dan apresiasi terhadap usaha, bukan tidak mungkin anak justru mulai menyukai matematika.

Anak tidak harus langsung menjadi ahli matematika.

Yang penting, mereka mau mencoba, berani salah, mau belajar kembali, dan tidak mudah menyerah.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya:

“Kenapa anak tidak suka matematika?”

dan mulai bertanya:

“Apa yang sudah kita lakukan agar anak menyukai matematika?”

Sebab, bisa jadi matematika bukanlah sesuatu yang menyebalkan.

Mungkin selama ini kita hanya belum menemukan cara yang tepat untuk membuatnya menyenangkan.

Dan ketika suatu hari seorang anak berkata,

“Pak, ternyata matematika itu menyenangkan.”

Bagi seorang guru, mungkin kalimat sederhana itu jauh lebih berharga daripada sekadar mendapatkan nilai seratus.

Karena pada akhirnya, keberhasilan belajar matematika bukan hanya ketika anak mampu menemukan jawaban yang benar, tetapi ketika mereka tidak lagi takut untuk mencoba menemukan jawabannya.


Daftar Pustaka

Hudojo, H. (2005). Pengembangan kurikulum dan pembelajaran matematika. Malang: Universitas Negeri Malang.

OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing.

OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume I and II) – Country Notes: Indonesia. Paris: OECD Publishing.

Soedjadi, R. (2000). Kiat pendidikan matematika di Indonesia: Konstatasi keadaan masa kini menuju harapan masa depan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.

Suherman, E., dkk. (2003). Strategi pembelajaran matematika kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar